Quarter Life Cry-sis

 Did you heard about this guys? Hope u always finds all the good things in this beautiful world.

Namanya "Krisis Setengah" atau keriuhan isi kepala menginjak usia 25 tahun. Meski usiaku belum secara tepat 25 tahun, rasa-rasanya aku sedang dilanda dilema krisis ini. Proses hidup yang kurasa memang "harus" dilalui semua orang. Kenapa harus? apakah manusia emang harus pusing? harus bingung?

Bukan... melainkan aku bilang "harus" terjadi, alasannya supaya manusia semakin mencari-cari jawabannya. Lalu menemukan jawaban yang menjadi alasan dari "pilihan" yang ia jalani. Hal ini untuk membentuknya menjadi dewasa, pikiran yang matang, pemikiran yang tidak hanya berlandaskan pada perasaan, ataupun dugaan semata. Melainkan pertimbangan banyak hal. Meski, tidak satupun jawaban bisa langsung ketahuan kebenarannya.

Sekarang aku benar-benar merasa harus mengenali diriku lagi dan lagi. Aku ingin mendengarkan suara hatiku lebih banyak tentang apa yang akan aku lakukan ke depan. Aku telah selesai menempuh pendidikan magister dengan beasiswa seperti yang beberapa waktu belakangan aku "semogakan". Alhamdulillah. Sekarang aku menapak lagi pada chapter baru, lembaran baru, buku perjalanan yang baru. Teman-temanku melanjutkan studi ke PPG Calon Guru, aku pertanyakan lagi pada diriku. Aku memahami bahwa tidak semua pilihan bisa dipilih sesederhana "ikut-ikutan teman" seperti yang dulu dilakukan kalau ikut ekstrakurikuler sekolah. Tidak semua pilihan sesederhana itu lagi, saat ini. Banyak pertimbangan.

Pertama, aku sudah terikat kontrak selama 6 bulan untuk tidak boleh berhenti dari tempat kerja ku. Aku harus kena pinalti kalau menghentikan kontrak sebelum 6 bulan ini. Pekerjaan pertamaku, yang semoga mengantarkan aku pada banyak pembelajaran ke depan, bukan hanya pembelajaran mencari uang, tetapi juga pembelajaran menemukan "diri".

kedua, aku pikir-pikir lagi, aku dengarkan suara hati, lagi dan lagi, aku masih merasa tidak yakin dengan menjadi guru di sekolah. Bukan apa-apa, guru sangat terhormat bagiku. Ayah Mamaku semuanya guru di sekolah, dan guru kehidupanku. Aku merasa kurang cukup "pantas" menjadi guru di sekolah, dengan struktur yang sangat terikat dengan norma, serta beban moral "pencetak generasi", ujung tombak pendidikan negeri ini. Pendidikan di sekolah setidaknya bukan hanya berekspektasi pada perolehan nilai, melainkan pada pengembangan karakter individu, matang dalam berpikir, dan bertindak. Meskipun, dalam pidato sebagai Lulusan Terbaik aku menyampaikan akan terus berkontribusi dalam dunia pendidikan. 

Entah kenapa menjadi guru di sekolah kerap terasa berat untukku, ruang kelas yang mengikat dengan norma-norma serta ekspektasi memberikan beban moral yang tidak begitu bisa kujelaskan. Belum lagi memngingat-ngingat betapa sulitnya aku meyakini bahwa aku "mampu" menyampaikan sesuatu dengan mudah dipahami oleh orang lain. Aku merasa tidak cukup layak didengarkan, berdiri di depan anak -anak usia 6-12 tahun itu, yang bisa saja aku salah dalam berucap, salah dalam bertindak dan salah dalam menyampaikan pesan-pesan yang seharusnya mereka terima dengan baik. 

Aku takut juga dengan realitas yang kuhadapi saat ini. Apakah aku terlalu idealis? ditengah kehidupan keluarga yang juga sedang bertarung dengan semoga-semoga adik-adikku, apakah aku tidak cukup bersyukur dengan kemampuan yang sekarang kudapati dari kebaikan Allah memudahkan jalan pendidikan ku? aku bingung. Aku seperti perlu berbincang panjang dengan ayahku, orang yang bisa dengan mudah menunjukkan kemana aku baiknya melangkah. Tapi, aku ukir lagi semoga ku. Akupun berupaya dengan sekuat tenaga ku. Meski aku tau, sepanjang hidupku kemudahan aku peroleh jauh lebih banyak dari izin Allah daripada ikhtiiarku sendiri. Yallah, ditengah kebingungan ini, bantu aku menjalani hidup sesuai dengan "suara hatiku", semoga sesuai juga dengan rencana-Mu yang Maha Indah itu. Ini bukan hanya cita-cita ku, ini cita-cita keluarga ini. Keluargaku yang kucintai dengan sebesar-besarnya cinta yang bisa aku berikan. Yallah, semoga Engkau mudahkan segala hal yang kami pikir sulit, semoga Engkau lapangkan segala hal yang kami rasa sempit. Aku hendak menuliskan lagi cita-cita yang tidak pernah terpintas di kepala ku. Namun, dengan format yang berbeda. Semoga Allah membantuku mewujudkannya. Meskipun aku yakin Engkau selalu Maha Indah dengan segala rencana-rencana Mu. Semoga rencana ku ini sejalan dengan Rencana-Mu yaallah. 

 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merayakan "Kepulangan"

Orbit

Karena Saya Percaya