Merayakan "Kepulangan"
Jumat yang sendu sudah sekian waktu berlalu. Setidaknya telah 8 minggu sejak tulisan ini mulai dituliskan. Namun, perasaan kerinduan yang amat dalam terus menggebu, tidak tergambarkan. Tidak terlalu akrab dengan perasaan sejenis ini, sebab selama ini begitu mudah menyapa dan memperoleh tawa bersama. Ayahku, seseorang yang sangat baik, selalu memberi bahagia dengan caranya. Namun, manusia tidak bisa hidup selamanya, itu bukan fitrahnya. Begitu aku menyadari kalimatku pasca ke"pulang"annya kepada Rabb-nya. Bahwa, aku, ayahku, mama, kita semua hanya manusia, hamba yang tentu akan "pulang" meski sejauh apapun kaki melangkah, meski sebanyak apapun cerita indah digoreskan bersama waktu yang kita tapaki. Aku lebih suka menyebutkan pulang, karena menurutku manusia memang bukan di sini tempatnya (dunia), dunia memang hanya sementara, fana yang tidak akan lama. Fana yang tidak terlalu baik untuk dipuja-puja tanpa rencana, menuju yang "kekal". Dan kita semua tentu ak...