Merayakan "Kepulangan"


Jumat yang sendu sudah sekian waktu berlalu. Setidaknya telah 8 minggu sejak tulisan ini mulai dituliskan. Namun, perasaan kerinduan yang amat dalam terus menggebu, tidak tergambarkan. Tidak terlalu akrab dengan perasaan sejenis ini, sebab selama ini begitu mudah menyapa dan memperoleh tawa bersama. Ayahku, seseorang yang sangat baik, selalu memberi bahagia dengan caranya. Namun, manusia tidak bisa hidup selamanya, itu bukan fitrahnya. Begitu aku menyadari kalimatku pasca ke"pulang"annya kepada Rabb-nya. Bahwa, aku, ayahku, mama, kita semua hanya manusia, hamba yang tentu akan "pulang" meski sejauh apapun kaki melangkah, meski sebanyak apapun cerita indah digoreskan bersama waktu yang kita tapaki. Aku lebih suka menyebutkan pulang, karena menurutku manusia memang bukan di sini tempatnya (dunia), dunia memang hanya sementara, fana yang tidak akan lama. Fana yang tidak terlalu baik untuk dipuja-puja tanpa rencana, menuju yang "kekal". Dan kita semua tentu akan pulang, suatu hal yang pasti sebagaimana janji-Nya dalam Surat Ali 'Imran ayat 185 (كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ) "Setiap yang bernyawa akan mati"~

Malam yang dingin dan kecamuk itu, tentu tidak akan lepas dalam ingatan. Ia kerap saja kembali dalam diam, dalam kecamuk isi kepala bahkan dalam mimpi yang bunga tidur, katanya. Ingatan bahwa sebanyak apapun kenangan diciptakan, sebanyak apapun tawa yang diukir bersama, sebanyak apapun waku yang dihabiskan, akan tiba masanya Allah memanggilnya pulang. 

Tubuh yang dingin itu kuciumi, tidak lagi hangat seperti biasa. Tidak lagi ada kerlingan matanya, tidak lagi ada senyuman bibirnya, tidak lagi ada alisnya terangkat sewaktu bagaimana kami saling bicara, hening. Hanya tangisku yang kututupi dengan ujung jilbab kumasukkan dalam mulutku, sebab mama bilang "ayah akan diazab kalau kami (anak-anaknya) menangis berlebihan". Meskipun aku tidak tahu, berlebihan seperti apa yang dimaksud, seberapa bagian yang diperbolehkan dan diizinkan untuk anak perempuan 23 tahun yang ditinggal cinta pertama dan cinta terbaiknya yang pernah ada.

Ayah, banyak kata yang sebenarnya tidak sempat terucapkan, seperti betapa "yukya" menyayangimu, selalu. Meski rasa sayang itu kerap tertutup dengan kebiasaan merajuk, kerap tertutup dengan sikap malas bicara nya yang sering kambuh. Ayah, banyak cinta yang telah kita lalui bersama, sejauh ingatanku sepanjang waktu yang kita lalui adalah indah. Ayah selalu menjadi yang terbaik dalam hal apapun, selalu menjadi yang terdepan, selalu menjadi yang terbaik dalam menyajikan cinta yang pernah aku terima.

Ayah, maafkan "yukya" belum sampai pada sukses itu, sukses seperti yang sering kita bicarakan beberapa waktu belakangan. Ayahku tersayang, jangan lagi diam dan menahan sedih, bilamana hidup kerap memberimu sakit. Ayah, jangan lagi hening, dan menahan segalanya sendirian, biarkan setidaknya "yukya" menemani ayah melalui semua sakit yang diderita, meski aku tau, kau tak akan biarkan itu. Sebab, kau ayah terbaik yang tidak ingin aku tau kepahitan hidupmu.

Ayah, tentang banyaknya luka yang disisipkan dalam hidup yang mungkin tidak selalu baik ini, semoga lapang bersamamu selalu. Ayah, tentang banyaknya sakit yang kau simpan sendiri itu, semoga Allah gantikan dengan pahala kesabaran seluas lautan untukmu di sana, sebagai bekal untuk menunggu "setidaknya aku" menyusulmu, nanti. Entah kapan, semoga tidak terlalu lama lagi.

Ayah, diusia yang ke 23 yang sungguh tragis ini. Kepulangan mu selalu membawa pada cerita-cerita yang pernah dulu kau sampaikan, pada petuah-petuah cinta yang kau berikan supaya aku mengarungi kehidupan dengan cara yang agung dan bijak. Ayah, yukya yang dulu kau gendong di punggung mu, malam-malam, memegang luka jahitan di pipi kanannya sambil memegang payung, sekarang telah menyelesaikan studi S2 nya. Studi S2 yang selalu ia ceritakan padamu. Pada doa-doa mu yang melangit bersama jalannya. Ayah, biarkan ilmu dan keberkahan yang ia kumpulkan mengalir untukmu, sebagai bagian yang tidak akan pernah terpisahkan, sebab kau adalah ayahku, tentu dalam darahku ada darahmu. Ayah, begitu sulit melangkah lagi, namun, kalau di sini saja aku tidak sampai pada "cita-cita" yang dulu kujanjikan padamu. Maka, aku membawamu selalu. Meski tertatih, mengenang dan mengingat-ingat lagi suara mu, nada tertawa mu dan cintamu yang tidak akan tergantikan itu.

Ayahku sayang, maafkan yukya belum sempat menjadi anak terbaik, sebagaimana engkau menjadi ayah terbaik. Maafkan yukya belum sempat membawamu pada banyaknya hal-hal indah yang ditawarkan dunia kepada manusia. Maafkan yukya jika belum membawa namamu "besar" melebihi yang bisa kuusahakan, selagi kau ada. Meskipun, aku yakin kau selalu ada, bersama ku, dalam nadiku, dalam darahku, dalam kepalaku, dalam hatiku, dan dalam doa di sujud-sujudku.

Ayah, sampai bertemu di taman-taman surga. Sungguh, Ayah yang terbaik. Di kehidupan manapun, jadi Ayahku selalu ya. Terimakasih kepada Allah telah menanugerahi aku Ayah yang terbaik💗

 I LOVE YOU CINTAKU SEPANJANG MASA.

Tertanda, Yukya Sanangan Ayah Putri Bungsu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orbit

Maybe it will be the last?