Tak Apa

 Haii, lama sekali tidak menyapa di sini. Ternyata kita sudah diakhir Juni. Akhir-akhir ini kehidupan terasa datar sekali. Tidak bahagia, tapi juga tidak gembira. Hari-hari berjalan se “apa adanya” saja. Orang-orang di dalamnya juga beberapa saja, beberapa yang kuizinkan lagi untuk menjadi bagian cerita. Tenaga ku tidak banyak, lelah sekali mengatasi diri sendiri rasanya. Bertemu dengan banyak orang rasanya juga melelahkan sekali, tidak sanggup. Daripada setelah pulang rasanya seperti dianiaya, lebih baik menjaga diri dari pertemuan yang tidak urgent juga.

Namun, durasi bertemu orang lain yang kian sedikit membuat skill komunikasi agak menurun. Nada bicara mereka bisa saja ditafsirkan seperti ada apa-apanya, tatapan mata yang tidak biasa, serasa agak menusuk, seperti ada “kenapa”nya. Padahal, hidupku sendiri sudah amat melelahkan, aku hanya ingin menata diri, menata hati, supaya tidak tersakiti dengan anggapan orang-orang yang kurang bisa memahami alur hidup, menghakimi meski tak mengerti pilihan-pilihan yang tersisa. Bukan karena sombong atau ingin memutuskan silaturahmi, melainkan hanya demi melanjutkan “hubungan baik” itulah pertemuan jangan dilakukan terlalu sering.

Kurasa ini adalah bagian menjadi dewasa, pertemuan rasanya “mahal” karena bukan hanya dibayar dengan seporsi makanan, melainkan juga dengan waktu, tenaga, dan energi yang tersisa. Obrolan juga terasa tidak begitu menarik, sebab didalamnya sedikit sekali manfaat terhadap diri sendiri, entah untuk bertambahnya informasi di kepala, atau untuk ilmu praktikal dalam hidup. Jadilah, aku menyenangi diri sendiri. Pergi ke sana ke sini sendiri, makan sambil labtop-an sendiri, menyenangkan sekali, Pergi ke Gramedia, berkeliling sampai kaki pegal pun tak masalah, tidak perlu menyamakan ritme langkah. Mau pulang jam berapapun bebas saja, sekali masih buka tokonya. Banyak hal yang bisa dilakukan sendirian, dan ternyata itu sangat “menenangkan” bagiku.

Sekarang, sepertinya begini sangat nyaman, tenang dan aman. Kehidupan berkutat di kerja, pulang, rebahan. Sisanya ngedrakor, labtob-an, main game, dan tidur. Tidak perlu punya daftar rencana, tidak perlu memikirkan obrolan, tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak ada “faedah” bagi diri sendiri. Tapi, di sela-sela itu semua, tetap menyelipkan semoga Allah kirimkan orang-orang yang membuatku dengan senang hati menghabiskan waktu bersama tanpa merasa lelah setelahnya, tanpa merasa berat menjawab setiap obrolan yang berjalan, tanpa merasa terbebani dengan cerita-cerita yang sebetulnya tidak aku mengerti. Semoga Allah, kirimkan orang-orang baik yang dengan senang hati mendengarkan, tidak menghakimi dengan realitas hidup yang tak sama, selalu mendukung dengan sebaik-baiknya dukungan yang bisa diberikan. Bisa dipercaya untuk hal-hal yang memang bukan pengumuman bentuknya. Semoga ya.

Tapi, kalau seperti ini juga tak apa.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merayakan "Kepulangan"

Orbit

Karena Saya Percaya